Sabtu, 28 Februari 2015
Transisi Pemerintahan Indonesia dalam Tinjauan Politik dan Keamanan ASEAN 2015
17.06 | Diposting oleh
H_Na Septiana |
Edit Entri
Hi blogggers! dalam beberapa kesempatan ke depan, aku mau share tulisanku yang bertema ASEAN Community, hehe... sebenernya tulisan-tullisan ini sudah ditulis tahun lalu dalam rangka untuk lomba di berbagai kompetisi, hehe. Pertama, dan yang aku share sekarang topik nya tentang ASEAN Political Security. Alhamdulillah, essay ini bisa mengantarku menjadi 9 besar tingkat Nasional untuk Essay Competition - PolGov Days yang diadakan Jurusan Politik-Pemerintahan (JPP) UGM - Yogyakarta pada tanggal 16 - 19 Oktober 2014. Well, Let's check it out!
![]() |
| This is it! I, my friends from Essay Competition, and The Jury @FISIPOL-UGM :) |
![]() |
| All PolGov Days Contestant @FISIPOL-UGM :) |
Transisi Pemerintahan Indonesia dalam Tinjauan Politik dan Keamanan ASEAN 2015
Negara-negara yang tergabung dalam komunitas
Association of South East Asian Nations (ASEAN) tahun 2015 akan mulai
menghadapi ASEAN Community atau Komunitas Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia
Tenggara yang terdiri dari tiga pilar, yaitu ekonomi (AEC), sosial-budaya
(ASCC), serta politik dan keamanan (APSC). ASEAN Community dibentuk sebagai
upaya menjadikan ASEAN sebagai komunitas tunggal untuk tiga pilar tersebut
secara lebih luas, tidak seperti dulu ketika hanya menjadi Perhimpunan Bangsa-bangsa
Asia Tenggara saja yang kerjasamanya terbatas. Komunitas ini nantinya hampir
sama dengan komunitas yang dibentuk oleh negara-negara di Benua Eropa yaitu UNI
EROPA.
Sebetulnya masih banyak orang yang belum mengetahui
secara jelas makna harfiah Komunitas ASEAN 2015, terutama di Negara Indonesia,
hal tersebut ditunjukkan dengan beberapa hasil survei. Dari survei yang dilakukan Direktur Infomed Kemlu PLE seputar
hasil survei Kementrian Luar Negeri tentang pemahaman masyarakat Indonesia
tentang Komunitas ASEAN 2015, hasil survei menunjukan, 80 persen orang
Indonesia hanya sekadar tahu ASEAN lewat nama. Sementara 19 persen lainnya,
bahkan belum pernah mendengar tentang ASEAN. Sementara itu, Kementerian Luar
Negeri (Kemlu) menyatakan bahwa Indonesia siap menuju Komunitas ASEAN 2015
meskipun berdasarkan hasil survei terdapat tiga negara yang dinilai paling
siap, yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura.[1]
Permasalahan yang
utama yang didapat dari adanya hasil
survei tersebut yaitu apakah transisi pemerintahan Indonesia saat ini mampu
menyosialisasikan Komunitas ASEAN pada warga negaranya agar siap menghadapinya
sehingga bisa bersaing dengan Negara-negara anggota ASEAN lainnya?mengingat
hasil survei yang ada menunjukkan, pemahaman dan kesiapan warga Indonesia
sangat minim.
Berkaitan dengan tiga pilar kerjasama pada Komunitas
ASEAN serta transisi Pemerintahan Indonesia, fokus pada tulisan ini adalah pada
pilar Politik dan Keamanan ASEAN atau ASEAN Political – Security Community
(APSC) yang dihubungkan pada transisi pemerintahan Negara Indonesia saat ini,
yaitu Transisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan
digantikan oleh Presiden terpilih yaitu Joko Widodo.
Pilar Politik dan Keamanan pada Komunitas ASEAN 2015
pada dasarnya dibentuk sebagai upaya untuk menjaga kestabilan kawasan Asia
Tenggara. Kestabilan politik dan keamanan akan menunjang sektor ekonomi
sehingga mampu menciptakan kawasan yang damai sekaligus makmur. Sebaliknya,
iklim ekonomi kawasan yang sehat akan menunjang stabilitas politik dan keamanan
karena berkurangnya disparitas ekonomi antar negara. Secara teoritik memang
tampak sederhana, tetapi di tataran realitas, jalan menuju integrasi cukup
terjal dan berliku. Ditambah lagi kenyataan bahwa ditinjau dari segi apapun,
kawasan Asia Tenggara adalah kawasan yang luar biasa majemuk.[2]
Seperti yang
kita tahu, fungsi utama
berdirinya ASEAN adalah untuk meningkatkan
keamanan regional dalam menghadapi ancaman agresi dari
luar kawasan.[3]
Dewasa ini ancaman keamanan mulai beralih kepada ancaman non-konvensional yang
datangnya dari dalam kawasan ASEAN sendiri, seperti separatis, terorisme,
narkoba, perdagangan manusia, dll. Untuk itu, Politik dan
Keamanan ASEAN 2015 nantinya
harus mampu menjawab tantangan non-konvensional ini dengan bekerja sama membuat
task force antar sesama negara ASEAN
untuk menanggulangi ancaman model baru tersebut. Menggalakkan ikatan keamanan
yang lebih dekat antar sesama negara ASEAN, dengan kerangka kerja yang lebih
terpadu, akan membuat negara-negara ASEAN mampu meningkatkan kemampuan
pertahanan kolektifnya dan memperkuat posisi tawar ASEAN terhadap
para major powers di dunia. Hal ini akan membantu
menambah rasa percaya diri ASEAN secara regional, serta membentuk identitas
tunggal ASEAN.[4]
Masalah keamanan
ketika berhadapan dengan major powers dunia juga tidak terlepas dari Pertahanan
Keamanan Rakyat Semesta (HANKAMRATA), yaitu sistem pertahanan keamanan yang
telah dianut oleh Indonesia sejak revolusi kemerdekaan. Berdasarkan Undang-Undang RI No 34 Tahun 2004, Hankamrata adalah
sistem pertahanan yang bersifat semesta, yang melibatkan seluruh warga negara,
wilayah dan sumber daya nasional lainnya serta dipersiapkan secara dini oleh
pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, berkesinambungan
dan berkelanjutan untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi keselamatan segenap
bangsa dari setiap ancaman. Sebaiknya, sistem ini terus ditingkatkan
eksistensinya pada warga Indonesia karena sangat diperlukan kerjasama dengan
rakyat Indonesia.
Di sini peran dan partisipasi masyarakat bisa digalakkan
melalui sistem sadar keamanan lingkungan. Maksudnya adalah, setiap masyarakat
mengerti perannya sebagai seorang anggota masyarakat yang memiliki kewajiban
menjaga lingkungannya dari ancaman kejahatan. Beberapa contoh yang bisa
dilakukan adalah dengan melakukan neighbourhood watch (seperti siskamling di
Indonesia). Pemeriksaan identitas bagi warga baru, tugas jaga malam, sampai
pengurusan surat-surat kependudukan adalah beberapa contoh tugas neighbourhood
watch. Cara ini dapat digunakan sebagai deteksi dini ancaman terorisme atau
tindak kejahatan, karena semakin warga mengenal tetangganya, semakin minim pula
kesempatan orang asing yang akan bertindak tidak baik untuk menginfiltasi
komunitas masyarakat tersebut.[5]
Pelaksanaan neighbourhood watch
harusnya tidak hanya diterapkan di Indonesia. Indonesia bisa mengajak negara
anggota ASEAN lainnya untuk menerapkan sistem tersebut.
Jika kembali menilik
lebih tentang masalah transisi pemerintahan, banyak sekali masalah yang sudah
terlihat jelas, contohya polemik kenaikan harga BBM yang menyebabkan
pemerintahan Presiden terpilih, Joko Widodo harus jeli mengambil keputusan,
dinaikkan atau tidak, karena selain menyangkut hajat hidup orang banyak, di
akhir pemerintahan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tidak mau menaikkan
harga BBM. Selain itu, jika kita melihat di lembaga legislatif, polemik baru
kembali muncul tentang revisi Undang-Undang Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (UU MD3). Lalu bagaimana dengan perkembangan kesiapan lembaga tinggi
Negara Indonesia menghadapi Komunitas ASEAN 2015, terutama dalam bidang Politik
dan Keamanan ASEAN?
Jika tidak segera
dibahas, maka kemungkinan untuk gagap menghadapi Komunitas ASEAN 2015 sangatlah
mungkin dirasakan oleh Negara Indonesia sehingga tidak mampu bersaing dengan
negara anggota ASEAN lainnya. Selain itu, perlunya peran mahasiswa di seluruh
penjuru Negara Indonesia untuk menyosialisasikan Komunitas ASEAN 2015 juga
tidak bisa dipungkiri. Harapannya, semua warga Indonesia dari berbagai kalangan
bisa bekerja sama dengan pemerintah Negara Indonesia untuk sosialisasi lebih
lanjut tentang Komunitas ASEAN 2015 sehingga Negara Indonesia siap
menghadapinya dan tidak ada lagi eksploitasi kekayaan Negara Indonesia oleh
negara lain mengingat pelaksanaan Komunitas ASEAN tingal menghitung bulan.
[1] Kantor
Berita Indonesia ANTARA, Kemlu: Indonesia Siap Mennuju Komunitas ASEAN 2015.
[2] Mohamad
Rosyidin, Tantangan Komunitas Keamanan ASEAN 2015, diakses dari http://geotimes.co.id/blog/2262-tantangan-komunitas-keamanan-asean-2015.html,
pada tanggal 4 September pukul 15.12 WIB.
[3] Dewi Fortuna Anwar. ASEAN’s Enlargement:
Political, Security, and Institutional Perspectives, dalam Mya Than dan Carolyn
L. Gates (ed). 2001. ASEAN Enlargement: Impacts and Implications. Singapore:
Institute of Southeast Asian Studies. Hlm. 33.
[4] Jerry Indrawan,
Komunitas ASEAN dan Kekuatan Masyarakatnya : Menjawab Tantangan Zaman, diakses
dari https://www.academia.edu/5328988/Komunitas_ASEAN_dan_Kekuatan_
Masyarakatnya,
pada tanggal 4 September 2014 pukul 15.32 WIB.
[5] Ibid.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
- H_Na Septiana
- Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
- just an ordinary woman and around the world is my ambition
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "







0 komentar:
Posting Komentar